mEnGaTaSi TaWurAn AnTaR PeLaJaR

Kalo menurut powpow…
Ya peran ortu u/ pendidikan moral dini pada anak di rumah.
Kalo di rumah sendiri ortu sering berkata2 kasar, ato malah jangan2 sering bernatem… gimana ga kalo anaknya juga melakukan hal yg sama diluar sana.

Menerapkan hukum2 fisik yg keras terhadap anak…. yg hanya memberikan persepsi kpd anak ttg cara2 penyelesaian dgn kekerasan
.
Membiarkan anaknya menonton, membaca, melihat secara langsung, mendengar…. hal2 yg berbau kekerasan tanpa memberikan larangan n penjelasan yg memadai ttg itu.

Membiasakan penyelesaian tiap masalah.. dari yg hanya sepele sampe yg serius…. dgn cara2 persuasif n komunikatif.

Meyempatkan diri u/ bertukar pikiran dgn anak ttg segala budi pekerti, pendidikan moral, agama….. dsb… walau itu hanya barang 10 ato 15 menit… drpd tdk sama sekali.

Nah kalo anak2 sudah kita bekali dari rumah… ya tentu dia dapat menjadi seseorg yg lebih dewasa n bertanggung jawab di mana pun dia berada.

Kalo itu sudah terlanjur terjadi… ya mungkin itu butuh penanganan yg lebih serius dari para profesional dibidangnya… seperti psikolog yg bekerja sama dgn pihak sekolah..
Karena tdk mudah u/ merubah suatu kebiasaan/ persepsi seseorg/ sesuatu yg sudah membudaya… apalagi melibatkan banyak pihak atau individu…

Dalam kalangan anak muda sekarang tidak ada orang yang bisa dijadikan panutan dalam berpikir dan bertindak. Disamping tokoh, mestinya ada novel atau film yang bisa membakar kesadaran mereka akan pentingnya belajar dan bukannya bertengkar.

Persaingan hidup yang sangat tinggi menimbulkan ketidaktenteraman dalam jiwa mereka. Kalau saja jumlah anak-anak ini berkurang, dengan sendirinya pertengkaran dan perkelahian juga akan menghilang.

Orang tua mesti serius memikirkan penduduk indonesia yang sudah membludak tak kerkendali dan mengadopsi anak yang terlahir malang ke dunia ini. Dengan berkurangnya penduduk, perhatian terhadap anak muda akan lebih banyak dan mereka akan selalu bersalaman di jalanan dan bungkan saling baku hantam.

gampang siapkan arena serta beberapa ring nah suruhlah mereka berhadapan 1lawan 1, pasti cuma beberapa
orang aja yang berani he..he..he.. biasanya yang tawuran beraninya karna berkelompok banyak orangnya gitu
Pengalaman gw waktu sma doloe:
1.ikut konsolidasi/gathering bersama siswa bbrpa sekolah sma n stm
2.kerjasama exkul dgn sekolah laen (cont.bid.kerohanian sma gw dgn sekolah laen, dll)
3.konselor BP jgn statis tp hrs jeli melihat situasi siswanya
4.ngembangin diskusi sehat bersolusi (internal-wali kelas dgn siswa-or ngundang pakar u/ sharing)
5.ikut lomba
6.kesejahteraan guru diperhatikan n diperbaiki (guru jg manusia)
7.fasilitas/sarana sekolah jg mempengaruhi kegiatan belajar mengajar (KBM) shg mempengaruhi pola pikir anak/siswa
8.Ortu hrs introspeksi dlm mendidik anak
9.peran media (palagi elektronik) sponsorin donk sekolah2 u/ kegiatan yg positif & kreatif (jgn cuma jadiin penonton bg acara2 programnya or gedein berita tawuran n nyari kambing hitamnya)

penyebab tawuran sendiri beraneka ragam jenisnya (kyk es krim):
1.ekonomi, klo mslh ini susah dah ksh solusinya
2.ada yg cari perhatian/sensasi
3.narkoba
4.premanisme (rebutan wilayah, malak, so senioritas)
5.bete ma keadaan rumah, ortu or sodara2nya

nah yg 2 mpe 5 msh bs dikontrol n dicariin solusinya tuh!

ok! slmat berbagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: